Simplicity

May 29th, 2010

Knowledge dan Inovasi: Prakondisi Daya Saing

Posted by Didit Adipratama in Knowledge Management

Seberapa penting knowledge? Francis Bacon bahkan telah menjawabnya pada abad ke-15, lewat adagium “ knowledge is power” yang terkenal itu. Tapi bacon tak pernah menyangka, lima ratus tahun kemudian knowledge menjadi kekuatan super jika bukan paling super untuk membiakkan kekayaan. Dan ia adalah Bill Gates, salah satu ikon abad ke – 20, yang denganBacon bagaikan terhubung seutas benang merah. Bos Microsoft ini telah di membuktikan “the power of knowledge” ke tingkat yang tak terbayangkan sebelumnya, bahkan oleh bacon.

Selama 13 tahun berturut turut, sejak 1995 hingga 2007, Bill Gates dinobatkan majalah Forbes sebagai “Orang Terkaya di Dunia” dengan pundit-pundi kekayaan pribadi (net worth) sebesar 101 miliar dollar AS (1999). Padahal Gates bukanlah tuan tanah, bukan pemilik tambang minyak dan emas, bukan pula industrialis atau pun dictator yang memiliki tentara sangat kuat. Gates, kitatahu, “Cuma” pendiri perusahaan piranti lunak computer (software). Namun, lewat Microsoft yang dikibarkannya pada 1975, Gates merontokan dominasi para penguasa mineral atau para pewaris takhta kerajaan sebagai  “ the World’s Richest People” inilah untuk kali pertama dalam sejarah, manusia terkaya didunia hanya bermodalkan knowledge, khususnya ilmu tentang komputasi.

Pergeseran “kekuasaan” memang tengah berlangsung. Selama berabad-aad, sumber daya alam (SDA), seperti tanah, mineral, minyak bumi, dan hutan, merupakan modal kesuksesan suatu bangsa. Tapi tiba-tiba SDA bukan lagi factor utama. Balakangan orang menemukan kekuatan baru yang bersifast nonfisik dan selalu terbarukan; inilah knowledge atau ilmu pengetahuan.

Dan, kemunculan teknologi informasi (TI) pada abad ke 20 merupakan lompatan besar dalam knowledge, sekaligus pengubah wajah perekonomian dunia. Simak fakta menakjubkan ini; jika nilai seluruh logam emas yang pewrnah ditambang umat manusia digabung, yakni meliputi penambangan zaman pra Mesir Kuno hingga penambangan modern, seperti di Freeport, Papua, termasuk pula sebagai cadangan Negara, seperti deposit emas Amerika Serikat di Fort Knox, maka jumlahnya ternyata kurang dari nilai enam perusahaan computer berbasis high tech Amerika Serikat, yaitu Microsoft, Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell.

Adalah Alvin Toffler yang pada 1995 mulai mendengungkan knowledge based society (KBS) sebagai puncak pewrkembangan masyarakat. Dalam KBS, menurut Toffler, knowledge menjadi inti sumber daya ekonomi masyarakat. Beberapa tahun kemudian, Peter F. Drucker menyinggung pentingnya knowledge bagi Negara-negara berkembang. Kata Drucker, Dunia Ketiga dapat membawa perusahaan besar pada kemajuan dunia modern jika berhasil melalui jalan KBS.

Korea Selatan (Korsel) adalah bekas Negara berkembang yang maju pesat lewat knowledge. Pada tahun 1960 angka Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel serupa dengan Ghana di Afrika. Tapi setelah bertransformasi ke KBS melalui pembangunan tiga dasawarsa, Korsel kini mengantungi PDB 15 kali lipat Ghana dan dapat menepuk dada sebagai salah satu Macan Asia. Sementara Ghana yang tak mempersiapkan diri kejalan KBS tetap terbelakang. Sebagai negeri berbasis knowledge, negeri Gingseng tercatat       Sebagai Negara dengan keunggulan kompetitif (competitive advantagea) yuang terpandang produk teknologi Korsel bertebaran di seluruh dunia menyaingi seniornya di Asia, yakni Jepang, dan Negara-negara Barat. Jika di tarik ke lapis paling dasar, keunggulan Korsel tidak terlepas dari besarnya jumlah peneliti sebagai agent of knowledge di Negara itu yang mencapai 29,2 per 10.000 penduduk, bandingkan dengan Indonesia yang 4,7 per 10.000 penduduk (2007).

Knowledge, teknologi, dan keahlian telah menjadi sumber competitiuve advantage yang penting bagi suatu bangsa untuk bersaing di masa mendatang. Hal ini mengandung isyarat bahwa bangsa Indonesia tidak boleh bernina bobo oleh slogan “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang kerap didengung dengungkan sejak di bangku sekolah dasar, yakni bahwa Negara kita kaya SDA untuk mencukupi seluruh kebutuhan bangsa. Sebab, era keunggulan komparatif (comparative advantage) berangsur-angsur memasuki masa senja.

Leave a reply

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

  • Monthly

  • Binusian Link

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web